==============================================
So on Day
Sleman-91 to make a tradition of "Bedhol Projo" from Ambarukmo to Denggung Tridadi, there are events that follow a series of one unit in the event, the Festival of Traditional Soldiers all-district of
Sleman. The event begins with the warning "Bedhol Projo" which describes the movement of the central government of Sleman Ambarukmo Complex in 1964 to Tridadi,
Sleman.
The Festival of Traditional Soldiers to take
the start in Monumen Jogja Kembali followed by 12 groups including soldiers from the Kraton, the Bregada BSW Mejing, Bregas, Bathok Bolu, Wonolela, Tunggul Arum, Kalijaga, Tunggul furniture, Kapten Hariyadi, Pangesthi velocity, and Kalirase Bremoro Geni Dowangan.
Zest and enthusiasm of the people of Sleman festival is so good. This is evident from the number of spectators who pack the Field Denggung view for the expertise of each bregada in the festival.
Read more...
Events carnival Soldier Bedhol Projo'dan Festival of Traditional Day as a series of warning so to-91 years
Sleman 2007 (20 May) received enthusiastic welcome from the community.
Carnival is the intention to invite the local community to appreciate the history region, to foster the spirit of that region to build and improve performance.
Series of carnival
culture "Bedhol Projo" this vibrant and witnessed thousand of
residents of Sleman and surrounding areas. After a procession of "Bedhol Projo" in Petilasan Ambarukmo, 11 soldiers Bregada start of the carnival parade area movie Monumen Jogja Kembali (Monjali) to the Field Denggung preceded by soldiers Kraton.
In the field, each bregada soldiers following the race and the performance ability. Bregada that the race is Bregada Pangesthi the velocity of Kaliurang, Bregada Tunggul Arum of Wonokerto (Turi), Bregada Tunggul furniture from Minggir, Bregada Bregas from Seyegan, Bregada Bathok Kalasan of Bolu, Bregada Kalijaga from Seyegan, Bregada Bremoro Geni from Dowangan Gamping, Bregada Kalirase from Medari, Bregada Wonolelo from Ngemplak and Bregada BSW from Mejin, Gamping.
Read more...
Acara kirab “Bedhol Projo´dan Festival Prajurit Tradisional sebagai rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-91 Kabupaten
Sleman tahun 2007 (20 Mei) mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Kirab tersebut mengandung maksud mengajak masyarakat setempat untuk menghargai sejarah daerahnya, sehingga menumbuhkan semangat untuk membangun daerahnya dan memperbaiki kinerja.
Rangakian kirab
budaya “Bedhol Projo” ini berlangsung semarak dan disaksikan ribuan warga Sleman dan sekitarnya. Setelah melakukan prosesi “Bedhol Projo” di Petilasan Ambarukmo, 11 Bregada prajurit memulai pawai kirab dari area parkir Monumen Jogja Kembali (Monjali) menuju ke Lapangan Denggung yang diawali oleh Prajurit dari Kraton Yogyakarta.
Di lapangan tersebut, masing-masing bregada prajurit mengikuti lomba dan unjuk kebolehan. Bregada Prajurit yang mengikuti lomba adalah Bregada Pangesthi Jawi dari Kaliurang, Bregada Tunggul Arum dari Wonokerto (Turi), Bregada Tunggul Wulung dari Minggir, Bregada Bregas dari Seyegan, Bregada Bathok Bolu dari Kalasan, Bregada Kalijaga dari Seyegan, Bregada Bremoro Geni dari Dowangan Gamping, Bregada Kalirase dari Medari, Bregada Wonolelo dari Ngemplak dan Bregada BSW dari Mejing Gamping.
Read more...
Pada Hari Jadi Kabupaten
Sleman Ke-91 yang melakukan tradisi “Bedhol Projo” dari Ambarukmo hingga Denggung Tridadi, terdapat acara yang ikut terangkai menjadi satu kesatuan dalam event tersebut, yaitu Festival Prajurit Tradisional sekabupaten
Sleman. Acara diawali dengan peringatan “Bedhol Projo” yang menggambarkan pindahnya pusat pemerintahan
Sleman dari Komplek Ambarukmo pada tahun 1964 ke Tridadi,
Sleman.
Sementara itu Festival Prajurit Tradisional yang mengambil
start di Monumen Jogja Kembali diikuti oleh 12 kelompok termasuk prajurit dari Kraton Yogyakarta, yaitu Bregada BSW Mejing, Bregas, Bathok Bolu, Wonolela, Tunggul Arum, Kalijaga, Tunggul Wulung, Kapten Hariyadi, Pangesthi Jawi, Kalirase dan Bremoro Geni Dowangan.
Animo dan antusias masyarakat Sleman terhadap festival ini begitu baik. Hal ini terlihat dari jumlah penonton yang memadati Lapangan Denggung demi melihat keahlian dari masing-masing bregada dalam festival tersebut.
Read more...